Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

Pesan Dalam Botol



Dari hati :)

“Sendirian tak mesti kesepian” 

Ini memang salahku. Ini kebodohanku. Ini karna ketidakpekaanku terhadapmu. Ini pertanda aku tak memahamimu.  Ini sebab yang telah membuatku berpikir ulang. Ini alasan yang menyadarkanku dari tidur panjang. Inilah yang mendorong batinku untuk menulis pesan ini. Pesan dari hati–UNTUKMU! Tak akan ada pesan ini jika tak ada dia yang menyadarkanku. Dia, yang sekejap membuka mata hatiku akan dirimu. Aku tak ingin menulis frasa-frasa indah penuh duka kali ini. Aku juga tak berniat mengucap pepatah-pepatah yang tak pasti bijak.
                                                               
Aku.

Aku tak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Aku tahu semuanya telah berubah. Semua telah berubah, begitu juga aku, begitu juga kamu, begitu juga kita. Waktu telah mampu menghapuskan segala yang tak berbeda di antara kita menjadi begitu berbeda. Kita yang mulanya berjanji akan setia menjadi tempat sampah dan sampah, berubah menjadi sampah sejati yang butuh tempat pembuangan pribadi.

Semestaku hampa saat hilangnya dirimu. Saat kau telah menemukan tempat pembuangan pribadi. Aku bagai berjalan di lorong-lorong gelap yang menunggu rengkuhan jemari lentikmu untuk menunjukkan cahaya terang. Aku selalu mengharapkan datangmu. Ulahmu yang melupakanku dengan sesederhana ini membuat memoar tentang kita berkejaran. Tak ada yang mau berhenti tayang. Malam-malamku sepi tanpa hadirnya sajak-sajak pilumu. Sajak-sajak yang sering membangun mimpiku. Kini, aku, sendiri harus membangun mimpi dan tiada henti memikirkan semua tentangmu.

Salahkah jika aku menginginkanmu?

Kamis, 29 November 2012

Curhatmu Malam Itu

Want you


“Ra, tunggu...” teriakmu sambil berusaha meraih pundaknya saat pulang sekolah. “Nanti malam aku kerumahmu.”

Tampaknya kau telah mengejutkannya dengan kalimat singkatmu. Namun, kau sengaja segera berlalu meninggalkannya karena kau tahu ia akan melontarkan kalimat-kalimat tanya selanjutnya yang justru akan membuatmu malu.

Entah sejak kapan kau dan dia saling memiliki ruang. Ruang yang menciptakan berbagai rasa di antara kalian berdua. Kau sendiri tak tahu apakah kau yang telah masuk perlahan ke ruangnya ataukah sebaliknya. Semuanya terjadi seperti air mengalir. Pada kenyataannya toh kau begitu menikmati keadaan ini.

Beberapa tanda tanya telah diperlihatkan oleh raut wajah Maura. Ia masih mempertahankan posisi terakhir saat kau melepaskan pundaknya. Memang tak biasanya kau yang setingkat lebih tinggi dari Maura dengan sengaja mau menunggu dan menyapa duluan. Apalagi di tempat yang memungkinkan banyak mata bisa memandang dengan mudah seperti saat ini. Gerombolan para perempuan pun secara otomatis mencari sumber suara yang ternyata darimu. Namun sayang, saat mereka tepat menemukan sumber suara itu, kau ternyata telah berhasil melarikan diri dan melenggang dengan tenang. Membuat Maura-lah yang harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.

“Cie, cie, Maura. Ternyata diam-diam lincah juga. PJ-nya dong, Ra?” sergah seorang kakak kelas dari gerombolan para perempuan menggoda Maura. Maura terlihat salah tingkah. Ya. Benar-benar salah tingkah dan tak tahu harus menjawab apa. Otaknya masih mencari jawaban yang tepat. Jawaban yang tidak  ambigu.

Maura tak mengenal siapa perempuan yang berbicara. Ia hanya tahu jika perempuan itu adalah teman sekelasmu. Banyak yang mengenal Maura. Hampir seluruh siswa mungkin. Adik kelas maupun kakak kelas. Maura memang aktif diorganisasi dan kegiatan-kegiatan sekolah yang memungkinkannya untuk sering bersosialisasi dengan para siswa.

Gosip semacam itu bagikan debu di musim kemarau. Cepat sekali terbawa oleh angin dan menempel di mana-mana. Pembersihan tak akan ada gunanya. Akan tetap datang lagi, lagi dan lagi dibawa oleh angin-angin yang baru. Hanya dengan mengabaikan dan menyerahkannya pada waktu-lah solusi yang sangat tepat.

Maura hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman lantas bergerak meninggalkan posisinya menuju parkiran. Ia dapati motormu hanya tinggal jejak-jejaknya saja. Kekecewaan menghiasi wajah orientalnya. Ia kemudian berjalan menuju halte yang ada di depan sekolah untuk menunggu angkot dengan banyak tanda tanya.

Kamis, 22 November 2012

Terbunuh Masa Lalu

Udara pagi ini terasa sangat dingin, ditambah rintik-rintik hujan yang membasahi dedaunan dan apapun yang telanjang di bawah langit. Kabut masih menyelimuti kotaku pagi ini. Perlahan kubuka dua bola mataku yang masih berat ini. Kulihat jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 04.30. Ternyata suamiku juga masih tidur pulas di sampingku. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung pergi ke kamar Juna, anak laki-laki semata wayangku dan menyiapkan sarapan.
Banyak sekali aktifitas yang harus aku kerjakan hari ini. Sampai-sampai aku harus menuliskannya di kertas catatan berbagai kebutuhan dan aktifitasku hari ini agar tak tercecer. Akhir-akhir ini aku sering melupakan sesuatu. Aku sadar bahwa kini aku tidak dapat mengelola sesuatu dengan baik. Padahal dulu aku selalu bisa mangaturnya segala sesuatu dengan baik.
Mungkin aku terlalu terbebani oleh tanggung jawab yang diberikan ayah dan ibu padaku. Terlahir sebagai anak sulung dari empat bersaudara, membuatku harus kuat menanggung beban itu, aku harus bisa menyekolahkan adik-adikku hingga menjadi sarjana dan menanggung pernikahannya nanti.
Banyak orang yang berpikiran jika hidupku sangat sempurna. Padahal sebenarnya dalam hatiku ini tersimpan kepahitan. Orang-orang berkata bahwa aku sangat beruntung. Bekerja sebagai pegawai senior di salah satu perusahaan swasta terkemuka. Mempunyai suami yang sangat tampan, bertubuh atletis, dan seorang anak berumur 4 tahun yang berbulu mata lentik, berkulit putih.  
“Dua minggu lagi adikku akan menikah. Banyak yang harus kupersiapkan”, ujarku pada Elia, teman sekantorku sambil kutarik nafas dalam-dalam.
Sepertinya ia tidak paham dengan perkataanku. “Memangnya apa yang harus kakak lakukan?”, Tanya Elia. “Biasalah, harus pinjam uang sana-sini untuk pesta”, jawabku.
“Aku harus memikirkan gedung resepsi, gaun yang akan dipakai, acara akad nikah, sampai menu makanannya”, kataku pada Elia. Mungkin ia mengerti betapa rumitnya pikiranku.
“Kalau butuh bantuan, telfon aku saja kak. Aku pasti siap membantumu”, ujarnya padaku sambil tersenyum. Mendengar kata itu, hatiku bahagia. Tak menyesal aku mempunya teman sepertinya. Ia selalu membantu kesulitan yang aku alami. Karena tak ada siapapun yang mau membantuku, termasuk suamiku. Kadang aku berfikir, apakah dia harus kuceraikan atau kupertahankan. Banyak yang mengira, perkawinanku adalah perkawinan yang sempurna. Aku sering mendapat pujian atas ketampanan suamiku. Tapi semua itu salah besar. Perkawinanku yang sesungguhnya jauh dari bahagia. Suamiku sering bertindak kasar padaku. Salah sedikit saja, tangannya langsung beraksi. Selama ini aku menahan kepedihan hatiku tanpa seorang pun tahu termasuk orang tuaku. Aku selalu menutupinya,berpura-pura tidak terjadi apapun. Sampai akhirnya, perlakuannya padaku  sudah tidak bisa kutoleransi. Ia melakukan kekerasan yang mengakibatkan lebam-lebam di tubuhku.
Sampai suatu hari aku tiba di kantor pada pukul 12 siang.  Elia sontak terkejut melihatku karena melihat lebam-lebam di tubuhku.
“Apa yang terjadi padamu kak?” tanya Elia cemas. Aku hanya terdiam dan menangis tersedu-sedu di meja kerjaku sambil memegangi wajahku yang memar.
“Ada apa kak?” Elia bertanya lagi.
“Semalam Aji memukulku lagi. Aku hampir dibunuh”, jawabku pada Elia.
Elia sangat terkejut mendengarnya. Mungkin anggapannya tentang keluarga sempurna sekejap runtuh, karena ia juga beranggapan jika keluargaku adalah keluarga yang sempurna. Akhirnya kuceritakan semua yang terjadi padaku tadi malam padanya. Elia sedih mendengar ceritaku. Air matanya deras mengalir di pipinya yang mulus sambil terus mengusap rambutku dengan lembut. Akhirnya, kami berdua menangis bersama.

Jumat, 16 November 2012

Kamu Tetap Malaikatku



Dream Wolrd
Cuaca tak begitu terik siang ini. Tak seperti biasanya dimusim kemarau, kali ini suhu turun beberapa derajat yang membuat pori-pori berpuasa mengeluarkan peluh. Butiran halus air kiriman Tuhan membangun suasana menenangkan. Memaksa jutaan butiran debu tetap pada pijakannya dan basah. Menyodorkan aroma khas yang sangat dikenal oleh indera penciuman.

Kunikmati suasana ini sambil mencari sosoknya yang tak kutemui sepanjang hari ini. Menelusuri tiap jalur yang biasa ia lewati untuk sampai pintu gerbang sekolah dan duduk di halte menunggu angkot. Rasa cemas seketika terbangun tatkala tak kuketahui keadaannya. Mencoba menanyakan pada teman sekelasnya, tapi tetap nihil. Tak ada yang tahu kemana dia setelah keluar kelas. 

Sadar seluruh permukaan wajahku sukses menjadi basah karena butiran air halus yang berkumpul, kuputuskan untuk berteduh sebentar di depan perpustakaan. Mengambil selembar tisu yang ada di tas dan mengusapkan ke wajah. Pandanganku tetap terjaga mencari sosoknya. Pemuda dengan tinggi standar, berkulit sawo matang yang tak pernah lepas dari jaketnya. Kemana kamu?

Butiran halus air berhenti turun. Terlihat beberapa anak masih asik dengan aktivitasnya di sekolah. Aku memutuskan untuk pergi ke halte depan sekolah. Berharap mungkin dia sedang duduk di sana. 

Sampai di pintu gerbang, kuarahkan pandangan jauh ke halte. Dia tak ada di sana. Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang. Aku tetap berjalan menuju halte. Dengan langkah putus asa kugerakkan kaki ini. Sapa ceria dari teman-temanku tak mengubah perasaanku. Rasanya ada yang hilang.

“Maura....!!” panggil seseorang yang suaranya benar-benar kukenal. Tak ada alasan lagi untuk tidak menengok ke belakang. Ya, itu suara Miko.

“Hei?”

“Mau kemana?”

“Halte lah.”

“Ngapain ke halte, bukannya dijemput ya? Tunggu aja di sini”

“Bukan mau nunggu jemputan”

“Terus nunggu siapa?”

Pertanyannya membuatku merasa kesal. Tak tahukah dia, aku mengitari sekolah hanya untuk menemukan sosoknya. Dengan cekatan kujawab, “Kamu! Puas?”



Dia lalu diam dan berjalan mengikutiku menuju halte. Kami duduk bersama. Berdua, di tengah suasana sendu. Untuk beberapa saat kami mempertahankan ego masing-masing untuk menutup rapat-rapat mulut ini. Sesekali ia melihat ponsel yang ada digengaman dan memainkannya. Mungkin dia merasa jenuh bersamaku di sini. Mungkin dalam hatinya juga sudah memaki-maki sopir angkot yang tak kunjung datang.

“Selamat hari pahlawan, Ko” kataku membuka percakapan.

“Iya. Selamat hari pahlawan juga”

“Siapa pahlawan dalam hidupmu? Bolehkah aku tahu?”

“Emmm, siapa ya? Spiderman, Batman, Superman, Hulk, Thor, atau Cat Woman. Mana yang menrutmu lebih pantas?”

Dia mulai bercanda. Mencairkan suasana yang tadi sempat beku. Aku tersenyum. “Seriously, please! Who is your hero, Miko? Can you tell me?”

I don’t know.”

“Nggak tahu apa, pahlawan dalam hidupmu?”

“Bukan! Nggak tahu sama bahasa kamu. Emang siapa pahlawan kamu?”

Begitulah dia. Sering mengaku sebagai seseorang yang serius tapi sebenarnya, ya, seperti kebanyakan orang yang sangat dinamis. Aku menatapnya kesal tanpa berkata apapun. Dia sengaja membalasnya dengan tatapan lugu tak berdosa. Sambil membangun senyum seringainya, dia terus menatapku yang pasti terlihat semakin kesal. Aku benar-benar ingin menonjokknya. Tepat di tengah wajahnya. Emosiku memuncak, dan dia tahu itu.

“Hhahaha... Ujian berakhir, Nona! Emosimu terlalu mudah untuk berada pada posisi puncak. Aku tahu sudah banyak makian di benakmu untukku, kan? Dan jika aku tak menghentikannya sekarang, mungkin jiwaku terancam”

Baik memang tujuannya. Ingin membantuku menjadi lebih sabar. Tapi itu menjengkelkan. Dia memutar badan 90⁰ yang otomatis mengubah posisi duduknya yang awalnya sejajar denganku, menjadi menghadapku. Aku hanya diam sambil menatap jauh ke depan. Memandangi pemandangan depan sekolah yang ternyata masih alami. Hamparan sawah hijau terbentang menunjukkan keindahannya. Aku tahu ia menatapku sekarang.

“Apa bedanya malaikat sama pahlawan?” tanyanya dengan nada serius.

Aku masih enggan menjawab.

“Nona Maura masih ngambek ya? Tadi kan cuma bercanda. Apa sih bedanya malaikat sama pahlawan?” nadanya merayu tapi serius.

“Beda wujud dan tujuannya,” jawabku singkat.
  To Be Continued...

Kamis, 15 November 2012

Hujan!

Rain of Tears
Miko, kau merusak tidur siangku. Getaran ponsel akibat kiriman pesan singkatmu membuat nadiku bergerak untuk segera membacanya. Hujan telah reda. Mungkin saat aku nyenyak tertidur. Hanya bekasnya yang bisa kutangkap. Menempel butiran-butiran air di dinding-dinding kaca, dedaunan, di semuanya. Membuat basah segala yang tak mendapat sandaran untuk berteduh.

Hujan selalu punya kesan yang berbeda disetiap kedatangannya. Kali ini, datangnya membawa kabar yang menyesakkanku. Dengan mata yang rasanya masih berat, kubuka pesan darimu. Rasa dingin sekejap menelusup ke setiap sistem sarafku. Aku menggigil. Tanganku tak kuasa menulis balasan untukmu. Katamu masa mudamu terenggut. Katamu kau tak kan bisa lagi punya masa seperti mereka. Dan katamu kau takkan seperti yang dulu.

Seribu kali kukatakan maaf padamu, bisakah merubah ini? Aku sendiri tahu persis jawabannya pasti TIDAK! Itulah alasan aku tak mau mengatakan maaf lagi padamu. Aku tak bisa. Maafku hanya bisa kukirimkan lewat isyarat sehalus udara. Mendapati kau tak membenciku saja, aku bahagia. Kau memang baik. Terlalu baik malah.

Kubalas pesanmu dengan beberapa lirik lagu Muda dari Agnes Monica. Harapanku kau sadar tidak ada yang terenggut dari dirimu. Bukan kata tidak mampu, tak perduli usiamu, kamu muda kamu bisa. Air mataku terasa hangat mengalir di pipi. Aku menangis lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Menangis untukmu. Ya! Hanya untukmu.

Kau membalas pesanku. Kau tanya aku pantaskah kau menangis. Seketika kuteringat sajakku hari itu untukmu. Aku tulis di sana jika aku ingin mendengar tangisanmu. Aku ingin melihatmu menangis di hadapanku. Kukirim sajak itu padamu. Berharap kau bisa menyimpulkannya sendiri. Cukup panjang.
Dan benar. Kau bisa menyimpulkan tanpa salah sedikitpun.

Lalu kau bertanya lagi padaku, salahkah jika sekarang aku jatuh cinta? Lama aku berfikir dan menahan air mata agar tidak menambah debitnya. Cukup dengan rasa sesak yang sangat menyesakkan hatiku kali ini. Aku tak berhak mengikatmu memang. Aku bukan siapa-siapamu. Aku hanyalah pembawa bencana bagimu yang berusaha menjadi malaikat tanpa sayapmu. Aku orang jahat. Tak mau menjadi lebih jahat dengan menahanmu.

Akulah orang pertama yang kau beritahu, kan? Kau minta pendapatku bagaimana jika kau bersamanya? Kau tanya bagaimana dia menurutku? Kau tanya juga mungkinkah ini terlalu cepat? Dan kau memohon padaku untuk tidak mengatakan pada siapapun?

Aku jawab semuanya setulus hatiku. Sepengetahuanku. Sebagaimana harusnya menjadi seorang kawan. Aku berusaha sebaik-sebaiknya. Berusaha tetap tersenyum untukmu meskipun rasa sesak tak pernah lekang dari hati.

Tak usah perdulikan aku. Bahagiakanlah jiwa dan ragamu. Berubahlah menjadi kau yang sekarang. Kau yang akan semakin terang. Kau yang tak akan meredup barang sepersekian detikpun. Aku tak akan meninggalkanmu, kawan!

Biar Maura jatuh cinta padamu, tapi tak perlu kau tahu.

Senin, 12 November 2012

Holding Your Guitar As Like As Holding Your Arms



Miss corner
Selalu ada rasa sesak yang tanpa terduga pasti akan menempati ruang ini. Ruang kecil terselubung yang rasanya kerap berubah volume. Tak jelas apa yang membuatnya sesak karna hanya oksigen yang ia ijinkan masuk. Tapi tak jarang, rasanya tak seperti oksigen lagi melainkan bagai segumpal benda besar dengan tingkat kepadatan paling tinggi. Begitu menyesakkan.

Seperti itulah rasanya ruang kecilku malam ini. Memandang gitar yang kamu titipkan beberapa bulan lalu di rumahku sebelum kejadian itu, aku jadi merindukan sosokmu. Bayangmu sekejap memenuhi benakku. Segala tingkah konyolmu terungkap lagi setelah beberapa bulan ini tak saling bertegur sapa. Entah karena alasan apa kita menjadi seperti ini. Suasana canggung kini selalu mendominasi saat kita tak sengaja bertemu pandang di jalan. Membuat masing-masing saling menahan diri.

Di sudut kamar ini. Kuberanikan diri meraih gitarmu dan mengambil posisi paling nyaman. Ragu, aku mulai mengatur nada memetik beberapa dawai. Mengingat beberapa lagu yang sering kamu mainkan di depanku. Lagu yang justru sering terdengar asing di telingaku. Tak begitu tahu alunan musiknya, tapi paham dengan setiap lirik yang kamu lantunkan lewat suara lembutmu. Membuatku langsung bersandar ke pundakmu karena sadar ternyata kamu begitu mempesona. Tiga, empat lagupun menjadi begitu singkat. Aku sangat menikmatinya.

Dari beberapa lagu itu, sayangnya aku hanya ingat dua lagu. Itupun hanya satu yang bisa kumainkan dan pasti juga sangat menyedihkan karena permainanku masih dalam tahap belajar.

Perlahan, sambil menatap jauh ku nyanyikan lirik-lirik lagu Kiss Me dari Sixspence dengan tempo lebih lambat. Ada kenangan khusus dengan lagu itu. Lagu yang ia ajarkan saat pertama kali aku memintanya untuk mengajariku bermain gitar.

“Ajari lagu yang chordnya sederhana. Chord yang bisa dijangkamu jari-jari pendekku”, pintaku saat itu padanya. Ia hanya tersenyum sambil mulai mengenalkanku pada chord-chord dasar. Membetulkan letak jariku ke tempat yang seharusnya. Sesekali terdengar celetuk geregetan dari mulutnya wujud kebodohanku.

Selamat Ulang Tahun



Happy Birthday ^^


Seharusnya kubisikkakan kalimat itu walau lirih
Seharusnya kurangkai bunga sebagai tanda kasih
Seharusnya kupanjatkan doa untuk pengharapan
Seharusnya kunyalakan lilin wujud perayaan
Seharusnya kulakukan itu tatkala kau bangun
.......
***
“ Bukankah seharusnya hari ini kita punya perayaan dan makan besar, Buk?” tanyaku pada wanita yang duduk di sampingku saat ini.
“ Perayaan apa? Ibuk memasak tumis kangkung sama dadar gulung tadi. Anggap saja itu makan besar. Kalau tidak mau masak saja sendiri.”
“ Ah. Padahal aku sudah menantikannya.”
“ Menantikan apalagi? Kau ini memang tidak pernah mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan. Hidupmu ini sudah yang paling enak dibandingkan ibu dulu.”
Itulah yang selalu ibuk katakan padaku saat permintaan-permintaan aneh kuajukan. Pasti ia akan membuka memoar kehidupannya dulu saat masih duduk di bangku sekolah. Menceritakan betapa sulitnya menjalani hidup ini. Perlu perjuangan yang sangat besar untuk mencapai titik puncak. Menurut penuturannya kala itu, sangat sulit mendapatkan waktu untuk belajar. Membantu pekerjaan orangtua adalah yang paling pokok. Apabila mereka melihat anaknya memegang buku, justru akan dimarahi. Namun berkat kesungguhan hatinya, ibuk bisa membuktikan pada Si Mbah ia berhasil meraih citanya untuk membanggakan orangtua. Dari lima bersaudara, ibuk adalah satu-satunya yang menjadi pegawai negeri. Guru dengan pendidikan S-1, itulah profesinya.
Tapi, sebenarnya bukan itu yang kumaksud saat ini. Bukan, bukan itu. Mengapa ia tidak pernah ingat jika tidak diingatkan? Aku tahu jika di keluarga kita memang tidak punya tradisi ini. Setidaknya kau sendiri harus mengingat itu, Buk. Aku terlalu canggung mengatakannya secara langsung. Akan menjadi sesuatu hal yang dirasa aneh jika kuberikan kejutan untukmu.
“ Bukan masalah syukkur mensyukuri, Buk. Perlukah kuambilkan kalender untuk tahu tanggal berapakah sekarang?” aku mulai kesal.
“ Memangnya tanggal berapa?”
Aku hanya bisa mendesah menahan kekesalan.
“ Oalah. Sekarang tanggal 29 Juni, ya? Berarti hari ini aku ulang tahun. Jadi berapa ya umur Ibuk?”
“43.” Sahutku cepat tapi lirih seraya pergi meninggalkannya.
***
.......
Seharusnya kuucapkan, SELAMAT ULANG TAHUN

29-06-12